Dari Usaha Konveksi, Hingga Peragaan Busana di Paris

Irna Mutiara

Wanita Indonesia memang penuh karya, Irna Mutiara salah satunya. Wanita yang mulai belajar di dunia jahit menjahit pada tahun 1988 ini telah memamerkan karyanya ke berbagai negara, antara lain Mesir, Dubai, Abu Dhabi, Hong Kong, Shanghai, Malaysia dan pada akhir tahun lalu, ia berhasil memperagakan koleksinya di Paris, Perancis.

Irna memfokuskan dirinya dalam merancang busana muslim, pelanggannya dari dalam negri tidak terbatas pada masyarakat awam, namun sederet selebriti seperti Henidar Amroe, Berliana Febrianti dan Saskia Adya Mecca menggandrungi rancangan pakaiannya.

Koleksi pakaian pengantin la perle

Di bawah bendera PT Trimoda Uptodate, Irna memproduksi busana muslim kasual bermerek Uptodate, produk gaun pesta bermerek Irna La Perle dan busana pengantin muslim La Perle. Hingga kini, ke 27 butiknya yang berlabel Uptodate telah tersebar di beberapa wilayah, mulai dari Bandung, Jakarta, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jambi, Aceh, Medan, Padang, Pekanbari, Palembang dan Samarinda. Irna mengaku dalam sebulan, ia dapat mendapatkan omzet RP 2 miliar, sementara bila Lebaran tiba, omzetnya membengkak dan tidak mengherankan bila ia berhasil mereguk omzet 36 miliar per tahun.

Keberhasilan Irna tidak didapatkan dengan mudah. Setelah lulus menengah atas pada tahun 1988, Irna mengikuti kursus tata busana selama setahun. Pada tahun 1989 akhirnya ia mengambil jurusan kuliah tata busana di Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung. Irna mengaku sudah sejak kecil ia menyukai dunia desain dan kebetulan ayahnya merupakan seorang penjahit.

Karena terkendala biaya, wanita kelahiran 24 Januari 1970 ini memutuskan untuk kuliah sambil bekerja. Berbekal sertifikat kursus, Irna berhasil menjadi desainer di perusahaan garmen yang cukup besar di Bandung yang memasok baju anak di salah satu department store. Karena pekerjaan yang menuntutnya fokus, ia memutuskan untuk keluar kuliah di semester empat.

Ia bekerja selama lima tahun di perusahaan garmen tersebut dan merasa tidak bisa berkembang lagi, sehingga ia pindah kerja ke sebuah perusahaan garmen lain di Bandung. Di pekerjaan barunya Irna merangkap sebagai kepala produksi, marketing dan desainer. Dari pengalamannya itulah, ia mulai memahami proses menjalankan usaha di bidang garmen. Irna hanya bertahan enam bulan di perusahaan tersebut sebelum akhirnya hengkang karena ingin fokus mengurus anak di rumah.

Bermodalkan jaringan dan uang hasil kerjanya di perusahaan yang lama, Irna membuka usaha konveksi untuk membantu suami dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Bermodal enam mesin jahit, ia menerima pesanan dari department store pada tahun 1996,namun apa daya bisnis yang tadinya berjalan cukup lancar terkendala krisis ekonomi di tahun 1998. Mitra yang selama ini memesan baju memberhentikan pemesanannya. Stok bahan baku Irna yang belum dibayar menjadi mubazir dan dia menelan kerugian hingga Rp 90 juta, sehingga terpaksa ia menjual mobil dan mesin jahitnya untuk membayar hutang.

Irna tidak menyerah, karena ia merasa memiliki kemampuan di bidang desain pakaian dan jahit menjahit, ia memulai bisnis baru beberapa bulan setelah kebangkrutannya, kali ini ia menawarkan layanan jahit private order, yaitu Irna masuk dari kantor ke kantor untuk menawarkan jasa jahit.

Bisnisnya mulai mekar saat ia menerima 3000 seragam pegawai ticketing dari PT Kereta Api Indonesia. Pesanan dari berbagai perusahaan dalam jumlah besar pun berdatangan, salah satunya adalah perusahaan pertambangan di Kalimantan.

Di tahun 2004, Irna menjuarai lomba desain busana muslim di salah satu majalah. Pada saat itu baju muslim kasual berbahan kaus belum ada dan diminati okeh banyak orang, dari rancangannya yang dipajang di majalah tersebut-lah pesanan mulai mengalir.

Dari sinilah ia memutuskan untuk mengembangkan busana muslim rancangannya, hingga di tahun 2006 ia mendirikan PT Trimoda Update dengan modal Rp 15 juta. Uang tersebut digunakan untuk membeli bahan baku. Saat ini Irna mempekerjakan 250 karyawan dan berupaya untuk membuka butik di Kanada, Singapura dan Malaysia.

KOMPAS