Aspal Kualitas Nomor 1 dari Indonesia

Aspal Buton atau yang dikenal dengan Asbuton adalah sumber daya alam asli dari Sulawesi Tenggara, kabupaten Buton. Namanya terinspirasi dari orang yang menemukan aspal ini. Konon, aspal Buton ditemukan sekitar tahun 1924 oleh geolog Belanda bernama WH Hetzel Asbuton dan mulai digunakan dalam pengaspalan jalan sejak 1926. Pulau di bagian tenggara Sulawesi ini menyimpan sekitar 80 persen dari total cadangan aspal alam dunia. Sisanya ada di Trinidad, Meksiko dan Kanada.

Keistimewaan lainnya juga ada pada asal muasal terbentuknya aspal Buton, yakni dari lapisan minyak di perut Bumi yang terperangkap di dalam lapisan Bumi. Kandungan minyak itu lama kelamaan naik dan bercampur tanah dan bebatuan di lapisan atas. Aspal jenis ini hanya ada di kawasan Lawale di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Untuk mengambilnyapun tidak perlu menggali terlalu dalam, karena aspal menumpuk di pertambangan.  Aspal Buton dapat ditemukan pada kedalaman 1000 meter, sementara aspal di tempat lain baru bisa ditemukan bila sudah dilakukan penggalian sejauh 3800 meter.

Pemerintah Kabupaten Buton sendiri telah membentuk perusahaan daerah khusus untuk mengelola potensi aspal yang tersebar di 43.000 hektar area di Pulau Buton. Aspal Pulau Buton juga diperkirakan tidak akan habis hingga 300 tahun mendatang karena pasokannya yang melimpah.

Mengenai kualitas, Asbuton memiliki kualitas yang berada di atas rata-rata. Hal ini ditegaskan dengan penelitian yang dilakukan oleh Profesor Shen Jin An yang membuktikan bahwa sejak dipakai di Cina pada akhir era 1990, Asbuton atau yang lebih dikenal dengan Buton Rock Asphalt (BRA) dinilai lebih ekonomis dan tahan lama. Bahkan aspal ini menyaingi aspal yang dimodifikasi dengan tipe SBS atau Styrene-Butadiene-Syrene.

Saat ini, sebagian besar kebutuhan aspal untuk konstruksi infrastruktur di Indonesia masih harus diimpor sehingga dibutuhkan beragam upaya untuk meningkatkan produksi aspal dari lokasi dalam negeri. Kebutuhan aspal lima tahun terakhir tercatat sekitar 1,2 juta ton per tahun dan akan semakin meningkat di masa mendatang.

Pemerintah juga telah menggalakkan penggunaan Asbuton sehingga konstruksi jalanan di Indonesia menjadi lebih tahan lama. Namun sangat disayangkan ketersediaan aspal ini masih dirasa kurang mencukupi kebutuhan nasional. Produksi aspal dalam negeri sendiri hanya sekitar 400 ribu ton per tahun. Kondisi tersebutlah yang memaksa Indonesia harus mengimpor sisa kebutuhan dari luar negeri. Karena itu, pemerintah mendukung sejumlah usaha dalam membuat aspal lebih mudah didapat, ekonomis, dengan kualitas yang lebih baik.

Hal tersebut didukung dengan pengembangan teknologi untuk mencapai keberlanjutan dalam pembangunan jalan di Indonesia.

Sumber: Berita daerah

  • Agi

    Indonesia rasanya tidak akan kesulitan menghasilkan aspal jenis kualitas apapun. Bahkan untuk membuat jalur kereta api. Progres proyek Kereta Api (KA) Trans Sulawesi tidak mengalami perkembangan alias mandek. Hingga kini, belum ada kepastian kapan akan dilakukan groundbreaking atau pembangunan tahap awal. Hal ini seperti yang diberitakan http://www.bit.ly/Ov1dx8