Dua Spesies Tarsius Baru di Sulawesi

Sulawesi kini memiliki 11 jenis Tarsius, setelah penemuan 2 jenis baru yaitu Tarsius spectrumgurskyae dan Tarsius supriatnai. Pemberian nama itu untuk menghormati dua ilmuwan yang telah berperan penting dalam upaya konservasi di Indonesia. Mereka adalah Dr. Sharon Gursky, seorang profesor antropologi di Universitas Texas A & M di Amerika Serikat, dan Dr. Jatna Supriatna, seorang profesor biologi di Universitas Indonesia.

Ciri khas tarsius adalah matanya yang relatif berukuran besar dari badannya. Mata ini berguna untuk menemukan makanan mereka di malam hari, mengingat tarsius adalah hewan nokturnal. Dengan mata yang berukuran sangat besar, tarsius harus memutar kepalanya hingga 180 derajat ke arah manapun untuk melihat mangsanya.

Tarsius terlihat sangat mirip satu dan lainnya. Pengamatan bioakustik yang telah dikembangkan sejak tahun 90-an berhasil mengumpulkan dan membandingkan data genetik sehingga bisa mengindentifikasi jenis baru. Habitat tarsius berada di hutan primer namun juga bisa ditemui di hutan sekunder, dengan populasi yang cukup melimpah. Namun ancaman terhadap populasinya bisa datang dari kerusakan hutan atau penggunaan petisida bagi pertanian.

Tarsius memiliki berat sekitar 120 gram saat dewasa. Mereka dapat melompat dengan mudah dengan presisi yang tinggi untuk menangkap mangsanya, yaitu serangga dan kadal.