I Gusti Kompyang Raka, Maestro Seni Indonesia yang Kaya Prestsai

Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72, Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-Pancasila) menyelenggarakan Festival Prestasi Indonesia di Jakarta Convention Center yang dilangsungkan pada 21-22 Agustus 2017 yang lalu. Pameran ini menampilkan 72 sosok yang menjadi Ikon Prestasi Indonesia.

Salah satunya adalah sosok maestro ternama yang dikenal akan seni musik tradisional gamelan dan tari Bali-nya. Beliau adalah I Gusti Kompyang Raka atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kompiang Raka. Beliau merupakan musisi tradisional yang kaya pengalaman dan telah berkolaborasi dengan banyak musisi dan seniman – baik nasional ataupun internasional – dari berbagai genre.

Seniman yang pernah menjalani pendidikan di Stage and Art Management di Rotterdam, Belanda ini tertarik pada dunia seni sejak ia berusia tujuh tahun. Pada tahun 1964-1967, ia menjadi Ketua dan Pembina kesenian di Banjar Kutri, Singapadu, Gianyar. Pada 1967, ia hijrah ke Jakarta dan mulai aktif dalam kegiatan kesenian.

Dedikasinya pada bidang seni dan budaya tidak hanya terwujud dalam dunia musik saja, tetapi juga pada dunia tari. Pada bulan April 1968, I Gusti Kompyang Raka mendirikan Yayasan Saraswati di Jakarta, yang kemudian menjadi Yayasan Tari Bali Saraswati.

Sederet pertunjukan seni pernah beliau lakukan baik di dalam negeri ataupun mengharumkan nama Indonesia di luar negeri. Sebut saja di tahun 2001, I Gusti Kompyang Raka juga pernah membawa LKB Saraswati ke Los Angeles, Amerika Serikat dalam sebuah misi kesenian. Beliau juga pernah ikut serta dalam World Choir Olympic di Busan, Korea Selatan pada 2002 bersama Elfa Secioria dan ikut serta dalam sebuah lawatan bersama Elfa Music Choir di Jerman pada 2004. Beliau juga pernah menjadi pengamat Festival dan Tokyo Arts Market di Jepang bersama dengan rombongan LKB Saraswati dan Nusantara Symphony Orchestra pada 2005.

Selain kaya pengalaman menjalankan pertunjukan, beliau juga kaya akan penghargaan. Di antaranya adalah Anugerah Kebudayaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2014), Penghargaan Akademi Jakarta (2013), Penghargaan World Song Festival, Budokan Tokyo, dan lain-lain.