Eri Marina Yo, Jawara Skateline di Lintasan Internasional

Ceplas ceplos layaknya anak muda pada umumnya, menjadi gaya dari Eri Marina Yo pencetak prestasi internasional di arena Skateline. Mahasiswi semester akhir di universitas swasta di Jakarta barat ini mengaku mengenal skateline sejak usia 5 tahun. “suka main sepatu roda sejak nonton holiday ice di Senayan pada 1992”, ujar perempuan yang lahir pada 2 september 1987.

Berawal dari menonton pertunjukan itulah, dia mulai jatuh cinta kepada olahraga minoritas tersebut. Awalnya Eri belajar menggunakan sepatu roda. Lalu, untuk mencari pengalaman dan memupuk ketelatenan, dia mengikuti lomba sepatu roda dari kota satu ke kota lainnya.

Eri mulai mulai serius menjadi atlet skateline pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2000 meski cuma untuk jenis olahraga eksibisi. Dan baru benar-benar dianggap olahraga profesional sejak resmi di pertandingan di PON Sumatera Selatan pada 2004 untuk kontingen DKI.

Karena mengaku masih kurang, dengan biaya sendiri eri pun nekat berlaga di kancah internasional guna menempa ilmu. Pada Februari 2009 laga pertama di Singapore tak begitu mengecewakan dan  langsung meraih juara pertama.

Dari hasil di Singapura inilah dia mulai merambah kejuaraan lainya. Terlebih, dia mulai mendapatkan sponsor dari produsen alat olahraga sehingga biaya perlombaan lebih ringan. Pada bulan Mei 2009 Eri mengikuti China Asian Inlineskate Cup yang di ikuti lebih dari 40 negara.

“Dari Indonesia, atlet perempuan yang ikut 5 orang. Di situ tampak kalau prestasi  kita jauh dari berbagai negara di dunia. Tapi itu melecut saya untuk terus  berprestasi,” tambah mahasiswi yang sedang sibuk dengan skripsi tersebut.

Pada Agustus 2009 dia mengkuti etape ke 5 skateline Asia di Malaysia dan meraih peringkat kedua. Banyak alasan mengapa atlet skateline kurang ‘berbunyi’ di kancah internasional.

Salah satunya lintasan skateline di Indonesia yang tak satu pun berstandar internasional. Selain itu, di luar negeri, skateline telah masuk dalam daftar ekstrakurikuler.

“Selain itu, kan kalau di Indonesia, olahraga tak boleh mengganggu sekolah. Kalau di luar negeri kan sebaliknya,” pungkas Eri.

Apapun hasilnya yang pasti, kita patut berbangga dengan keberhasilanya mengharumkan nama Indonesia.

Ditulis: dari berbagai sumber