Bangga jadi Anak Indonesia

Bangga rasanya menjadi orang Indonesia, begitu menyaksikan anak-anak Ibu Pertiwi berhasil mengukir prestasi di panggung dunia. Mereka ini adalah murid-murid SMA di Jakarta dan Denpasar yang berhasil menjuarai kompetisi internasional, menyisihkan puluhan ribu peserta dari 52 negara. Ya, ajang bergengsi itu bernama Kompetisi Think Quest International 2011.

Sebuah kompetisi yang menguji keterampilan berpikir kritis dalam menghadapi masalah nyata di dunia
Bersamaan dengan itu, bangga pula rasanya menjadi orang Sumatera Barat, ketika mengetahui pelajar SMP daerah ini, meraih medali di Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2011 di Manado, pekan lalu. Prestasi itu ibarat oase di tengah dahaga bangsa dan daerah ini, miskin prestasi yang bisa dibanggakan.

Setali tiga uang. Prestasi yang diraih tiga pelajar SMP Sumbar di OSN 2011, juga mengenang kembali tentang kisah Minangkabau sebagai industri otak. Anak-anak itu, membuat urang awak bangga untuk menegakkan kepala di pentas nasional.

Dua kisah sukses anak-anak Indonesia di iven internasional, dan anak-anak Sumbar di kancah nasional, seolah berada di dunia lain di saat bangsa dan daerah ini dihebohkan berbagai skandal korupsi dan kekerasan. Di balik karut marut itu, anak-anak negeri ini terus berprestasi, seolah ingin memberi contoh kepada para pemimpin bangsa dan daerah ini tentang arti hidup berbangsa dan benegara.

Anak-anak Indonesia tidaklah kalah cerdas dengan anak-anak negara maju. Buktinya, para pelajar kita selalu menjadi langganan medali dalam setiap Olimpiade Sain Internasional. Begitu pula di Sumbar, para pelajarnya juga tak jarang membawa pulang medali pada setiap OSN, atau ajang adu otak lainnya.

Jika saja pengurus negeri ini serius mengelola anak-anak cerdas dari Sabang sampai Merauke, bukan tidak mungkin, dalam sekejap bangsa ini berlari kencang mengejar ketertinggalannya dari negara lain. Itulah penyakit brain drain (kehilangan orang pintar) yang selama ini diidap Indonesia. Hingga kini, orang-orang cerdas bangsa ini belum mampu dikelola menjadi brain gain.

Untuk melahirkan anak-anak pintar di seantero Tanah Air, tidak mesti melalui Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) atau Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Ini dibuktikan Ghifari Muhammad Syani, siswa SMPN 5 Batusangkar, peraih medali emas OSN 2011 bidang IPS. Sekolah gratis dengan bangunan dan fasilitas seadanya, ternyata mampu melahirkan anak-anak pintar berkat kesungguhan mengabdi para guru.

Alamsyah lebih dramatis lagi. Siswa SMPN 1 Pegangbaru, Kecamatan Padanggelugur, Pasaman, itu meraih medali perunggu OSN 2011 bidang Matematika, setelah gagal masuk RSBI karena tak ada biaya. Amanda Khalieta, masih beruntung. Peraih  medali perak OSN 2011 bidang Biologi itu, bersekolah di SMPN 1 Padang belabel RSBI, yang notabene bergelimang fasilitas di sekolah.

Kisah Ghifari Muhammad Syani dan Alamsyah memberi pelajaran bagi pengelola negeri ini, bahwa mendidik anak-anak pintar, tidak selamanya berkelindan dengan kemewahan alias pendidikan mahal. Pendidikan mahal hanyalah sebuah pembenaran agar pengelola negara dan daerah ini, leluasa memungut uang peserta didik dan lepas tangan dari tanggung jawabnya. Mewujudkan anak-anak Indonesia berkualitas, diperlukan guru dan birokrasi pendidikan yang tulus mengabdi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selamat untuk Ghifari, Amanda dan Alamsyah. Selamat pula kepada anak-anak Indonesia berprestasi di penjuru Tanah Air. Semoga kelak mereka menjadi anak-anak cerdas berkarakter, tidak seperti orang-orang pintar kita sekarang ini, yang justru banyak pintar korupsi.

(Sumber: Padang Ekspres)